Pelatihan Advokasi ASRI

by | Jan 2, 2026 | Kabar OI

Kalimantan Barat, 2025. Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) menyelenggarakan Pelatihan Advokasi dan Kolaborasi Lintas Sektor untuk Tim Program di Sukadana, Kalimantan Barat. Kegiatan ini melibatkan 24 peserta internal ASRI dan difasilitasi oleh dua fasilitator Organising Institute (OI). Selama dua hari, peserta belajar bersama tentang berbagai pendekatan untuk mendorong perubahan—dengan penekanan pada advokasi sebagai strategi kerja yang tidak hanya sekedar bertumpu pada terlaksananya program , tetapi turut membaca peta kekuasaan, kanal keputusan, dan kemungkinan aliansi.

Pelatihan ini diselenggarakan sebagai respons atas kebutuhan internal Tim Program ASRI dalam menjalankan program di tengah situasi yang tidak netral. Di konteks seperti Kalimantan dan Papua, ancaman deforestasi tidak cuma soal hilangnya tutupan hutan, tapi juga soal pergeseran relasi kuasa: siapa yang bisa menentukan penggunaan ruang, siapa yang menanggung dampaknya, dan siapa yang suaranya disisihkan dari proses pengambilan keputusan.

Dalam pelatihan ini, OI menyusun dan memfasilitasi delapan materi terkait advokasi menggunakan ragam metode pembelajaran yang partisipatif. Metodenya mencakup role play, permainan, bercerita, menggambar, diskusi terpandu, dan studi kasus—metode yang sengaja dipilih untuk menyeimbangkan analisis dengan pengalaman peserta. Pendekatan yang dipakai bertumpu pada pendidikan populer dan pendidikan orang dewasa, yang menempatkan pengalaman kerja peserta sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar “objek” yang harus diisi.

Sepanjang sesi, peserta diajak mendefinisikan ulang advokasi: bukan hanya urusan membuat pernyataan sikap atau melakukan audiensi, melainkan kerja strategis yang menggabungkan analisis konteks, pemetaan aktor, serta pilihan taktik yang sesuai dengan kondisi lapangan. Peserta juga mengerjakan latihan pemetaan pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang punya pengaruh, kepentingan, dan posisi terhadap isu, lalu menerjemahkannya ke dalam rancangan strategi—termasuk menyusun pesan inti advokasi yang jelas, terukur, dan relevan untuk audiens yang berbeda.

Tidak berhenti pada “peningkatan kapasitas”, pelatihan ini juga dirancang sebagai ruang untuk menilik ulang kerja-kerja advokasi yang selama ini dijalankan ASRI: apa yang sudah efektif, apa yang sering buntu, dan faktor apa yang selama ini luput dibaca. Refleksi ini penting karena advokasi seringkali gagal bukan karena kurang kerja keras, melainkan karena strategi tidak bertemu dengan struktur masalah.

Dengan format belajar yang kolaboratif, pelatihan ini diharapkan membantu Tim Program ASRI memperkuat cara kerja advokasi yang lebih terarah—bukan untuk menggantikan kerja-kerja yang sudah dilakukan, melainkan untuk memperjelas pijakan, memperkuat koordinasi, dan menyusun langkah yang lebih strategis dalam menghadapi tantangan di wilayah kerja.

Kalimantan Barat, 2025. Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) menyelenggarakan Pelatihan Advokasi dan Kolaborasi Lintas Sektor untuk Tim Program di Sukadana, Kalimantan Barat. Kegiatan ini melibatkan 24 peserta internal ASRI dan difasilitasi oleh dua fasilitator Organising Institute (OI). Selama dua hari, peserta belajar bersama tentang berbagai pendekatan untuk mendorong perubahan—dengan penekanan pada advokasi sebagai strategi kerja yang tidak hanya sekedar bertumpu pada terlaksananya program , tetapi turut membaca peta kekuasaan, kanal keputusan, dan kemungkinan aliansi.

Pelatihan ini diselenggarakan sebagai respons atas kebutuhan internal Tim Program ASRI dalam menjalankan program di tengah situasi yang tidak netral. Di konteks seperti Kalimantan dan Papua, ancaman deforestasi tidak cuma soal hilangnya tutupan hutan, tapi juga soal pergeseran relasi kuasa: siapa yang bisa menentukan penggunaan ruang, siapa yang menanggung dampaknya, dan siapa yang suaranya disisihkan dari proses pengambilan keputusan.

Dalam pelatihan ini, OI menyusun dan memfasilitasi delapan materi terkait advokasi menggunakan ragam metode pembelajaran yang partisipatif. Metodenya mencakup role play, permainan, bercerita, menggambar, diskusi terpandu, dan studi kasus—metode yang sengaja dipilih untuk menyeimbangkan analisis dengan pengalaman peserta. Pendekatan yang dipakai bertumpu pada pendidikan populer dan pendidikan orang dewasa, yang menempatkan pengalaman kerja peserta sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar “objek” yang harus diisi.

Sepanjang sesi, peserta diajak mendefinisikan ulang advokasi: bukan hanya urusan membuat pernyataan sikap atau melakukan audiensi, melainkan kerja strategis yang menggabungkan analisis konteks, pemetaan aktor, serta pilihan taktik yang sesuai dengan kondisi lapangan. Peserta juga mengerjakan latihan pemetaan pemangku kepentingan untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang punya pengaruh, kepentingan, dan posisi terhadap isu, lalu menerjemahkannya ke dalam rancangan strategi—termasuk menyusun pesan inti advokasi yang jelas, terukur, dan relevan untuk audiens yang berbeda.

Tidak berhenti pada “peningkatan kapasitas”, pelatihan ini juga dirancang sebagai ruang untuk menilik ulang kerja-kerja advokasi yang selama ini dijalankan ASRI: apa yang sudah efektif, apa yang sering buntu, dan faktor apa yang selama ini luput dibaca. Refleksi ini penting karena advokasi seringkali gagal bukan karena kurang kerja keras, melainkan karena strategi tidak bertemu dengan struktur masalah.

Dengan format belajar yang kolaboratif, pelatihan ini diharapkan membantu Tim Program ASRI memperkuat cara kerja advokasi yang lebih terarah—bukan untuk menggantikan kerja-kerja yang sudah dilakukan, melainkan untuk memperjelas pijakan, memperkuat koordinasi, dan menyusun langkah yang lebih strategis dalam menghadapi tantangan di wilayah kerja.

Written by Pahmi Attaptazani

Related Posts

No Results Found

The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *